Berhati-hati menulis judul di atas. Apa saya sendiri memahami apa itu feminisme atau feminis? Definisi dari feminist (from the web): "Belonging to movements and ideas which advocate the rights of women to have equal opportunities to those possessed by men."
Dengan definisi seperti di atas, saya pribadi sepakat dengan paham feminisme. Tapi tidak menganggukkan kepala dengan ide bahwa wanita sepenuhnya bisa "menjadi" laki-laki atau melebihi laki-laki. Jika harus menggolongkan manusia ke dalam dua jenis, pria dan wanita, maka menurut saya keduanya mempunyai kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Contohnya, wanita cenderung lebih lemah fisiknya dari pria; Atau pria yang cenderung kurang peka dibandingkan dengan wanita.
Saya juga masih beranggapan bahwa ada yang kodrati dari masing-masing jenis. Contohnya, wanita bisa menaiki tangga karir setinggi mungkin. Tetapi, ketika ia menjadi seorang istri atau ibu, maka ia akan memerankan peran yang vital dalam kehidupan rumah tangganya. Peran sebagai istri atau seorang ibu tidak bisa begitu saja ditukar dengan seberapa besar nilai kontrak kerjanya di kantor, atau nilai proyek-proyek yang digolkan yang mengucurkan keuntungan bagi perusahaan.
Hari ini saya tergelitik dengan sebuah kalimat "wanita adalah pelengkap pria". Memang intepretasi dari kalimat tersebut bisa sangat luas dan sangat tergantung konteksnya. Dalam bahasa Indonesia, salah satu sinonim kata pelengkap ialah obyek. Obyek bukanlah subyek. Obyek bersifat pasif, menerima, dikenai perbuatan. Dan untuk konteks yang satu ini, saya menggelengkan kepala. Ketika wanita dipandang (atau mungkin memandang dirinya sendiri) sebagai obyek, maka dia tidak akan berkembang sebagai satu pribadi. Dia bukan lagi subyek, yang mampu aktif melakukan hal untuk diri dan hidupnya.
Seorang manusia haruslah bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Ketika perempuan dicitrakan sebagai subyek, maka ia diakui kepribadiannya, kemampuannya untuk menangani hidupnya, kemampuannya untuk terlibat aktif sebagai bagian dari dunia. Ketika pencitraan hanya sebatas obyek, maka ia hanya akan selalu menjadi nomor dua. Eksistensinya baru diakui apabila menunjang dan menguntungkan si subyek.
Menurut saya, salah satu elemen dari bangsa yang kuat adalah kualitas dari manusianya. Mari saya eja: MANUSIA. Yang terdiri dari pria dan wanita. Peran keduanya saling melengkapi. Ketika kualitas hidup wanita dikebiri, maka kualitas bangsa juga akan mati. Bukan berarti wanita harus menjadi congkak dan semaunya sendiri, pastinya ada porsi untuk peran masing-masing.
Pengalaman saya pribadi: SD sampai SMP saya bersekolah di sebuah sekolah di mana laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, kesempatan dibuka untuk keduanya untuk belajar, berkembang, berorganisasi, memimpin, dsb. Setiap anak dihargai bukan berdasarkan gendernya. Ketika SMA, entah kenapa mungkin karena latar belakang yang berbeda, seolah-olah perempuan lebih baik di belakang, mendukung pria yang memimpin di depan. Dan ini mempengaruhi pola pikir. Lama-kelamaan jadi berpikir tidak perlu untuk mengemukakan pendapat, tidak perlu untuk mencoba berani berdiri di depan untuk memimpin, toh laki-laki lebih diterima untuk melakukan itu semua. Jika dibawa pada komentar ekstrim, itu adalah salah satu bentuk pengerdilan.
Perempuan punya hak yang sama untuk menentukan hidupnya. Ia juga harus belajar untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dalam memilih keputusan, dalam perannya sebagai makhluk sosial yang punya hak dan kewajiban untuk berkontribusi pada lingkungan, bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu hidup pribadinya. Hidup perempuan bukan hanya sebagai pemanis ruangan atau sekedar dekorasi di latar belakang. Perempuan mempunyai pilihan. Ia adalah subyek dan bukan sekedar pelengkap atau obyek, apalagi obyek penderita.
Saya bukan feminis? Hmmm, terlepas dari etiketnya, saya hanya mengemukakan ide yang tadinya terkungkum dalam benak kepala :).